Temukan Ketimpangan Distribusi, COVAX: Tanpa Perlebar Kesenjangan Vaksin Ijmal

Waspada. co. id – COVAX mendesak negara-negara agar mengakui bahwa semua orang yang telah menerima vaksin COVID-19 yang diakui aman dan efektif oleh COVAX juga dinyatakan telah divaksinasi penuh.

COVAX ialah prakarsa Organisasi Kesehatan Negeri (WHO) untuk mendistribusikan dengan adil vaksin COVID-19. Tujuannya adalah menjadi platform untuk kegiatan penelitian dan pengembangan serta manufaktur berbagai vaksin Covid-19, sekaligus menegosiasikan makna jual masing-masing vaksin. Skema itu juga bertujuan menjamin ketersediaan vaksin bagi seluruh negara yang bergabung, rontok dari status ekonomi daerah tersebut.

“Setiap langkah yang hanya menguatkan orang-orang yang dilindungi oleh sebagian vaksin yang diakui WHO yang mendapat kebaikan dari pembukaan kembali penjelajahan, ” hanya akan memperlebar “kesenjangan vaksin global, ” kata COVAX. Langkah sewarna itu hanya akan memajukan “ketimpangan yang telah saya saksikan dalam distribusi vaksin COVID-19, ” kata COVAX dalam pernyataannya.

India pada hari Jumat (2/7) menyatakan telah mengirim tim-tim ke enam negeri bagian untuk membendung level penularan COVID yang luhur. Negara bagian yang menerima kedatangan tim-tim tersebut adalah Kerala, Arunachal Pradesh, Tripura, Odisha, Chhattisgarh, dan Manipur.

Kementerian Kesehatan tubuh India pada hari Jumat (2/7) menyatakan mencatat 46. 617 kasus baru dan 853 kematian dalam masa 24 jam sebelumnya.

Hari Kamis (1/7), Washington mengumumkan tentang pengiriman tim “tanggap lonjakan” ke berbagai daerah di GANDAR yang terpukul keras sebab varian Delta virus corona yang sangat mudah menular. Pakar penyakit menular AS, Anthony Fauci, baru-baru tersebut mengatakan varian yang mula-mula kali dideteksi di India itu merupakan “ancaman terbesar” bagi upaya mengakhiri pagebluk COVID di AS.

Jumat (2/7), Johnson and Johnson mengumumkan bahwa “vaksin COVID-19 dosis tunggalnya menimbulkan reaksi kuat serta terus menerus terhadap varian Delta yang menyebar cepat & varian-varian virus SARS-CoV-2 umum lainnya. Selain itu, petunjuk menunjukkan bahwa daya tahan respons kekebalan berlangsung selama sedikitnya delapan bulan, masa waktu yang dievaluasi tenggat sekarang. ”

WHO kawasan Afrika bertemu gelombang ketiga kasus COVID-19 yang serius, yang dikarenakan oleh berbagai varian dalam berbagai penjuru benua itu.

Dalam masukan virtual dengan wartawan dalam hari Kamis (1/7), Direktur Regional Afrika WHO Matshidiso Moeti mengatakan kasus-kasus baru telah meningkat di Afrika rata-rata 25 persen selama enam pekan berturut-turut menjelma hampir 202. 000 pada pekan yang berakhir di dalam 27 Juni lalu. Tengah itu kematian meningkat 15 persen di 38 negeri Afrika menjadi hampir 3. 000 pada periode yang sama.

“Kecepatan dan skala gelombang ke-3 di Afrika tidak serupa yang kami lihat sebelumnya, ” kata Moeti. “Maraknya penyebaran varian-varian yang bertambah mudah menular menjadikan risiko terhadap Afrika naik ke level yang sama sekali mutakhir. ”

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Jerman Horst Seehofer menyebut keputusan penyelenggara kejuaraan sepak bola Euro Cup 2020 “sama sekali tidak bertanggung jawab” karena tetap menyelenggarakan kompetisi itu semasa pandemi.

Seehofer mengatakan keputusan oleh Persatuan Asosiasi Menepuk Bola Eropa untuk menggelar pertandingan di stadion di berbagai penjuru Eropa secara massa hampir 60 ribu orang yang sebagian besar tidak mengenakan masker jelas-jelas lebih mengedepankan perdagangan daripada perlindungan. Ia mengatakan walaupun sejumlah daerah membatasi kerumunan, organisasi tersebut seharusnya mendirikan sendiri keputusan mengenai itu.

Sementara tersebut, Direktur Regional Eropa WHO Hans Kluge mengatakan dalam hari Kamis (1/7) kalau masa penurunan kasus COVID-19 selama 10 pekan berturut-turut di kawasan itu telah berakhir. Dalam pengarahan mingguan di Kopenhagen, ia mengucapkan kasus di 53 negeri di kawasan itu meningkat 10 persen pada pekan lalu.

Kluge mengaitkan kenaikan itu secara “campuran dari peningkatan perjalanan, pertemuan dan pelonggaran penyekatan sosial, ” yang menurutnya terjadi di tengah-tengah “situasi yang berubah cepat” – kemunculan virus corona varian Delta yang lebih cepat menular, situasi yang diperburuk oleh rendahnya laju vaksinasi di kawasan itu.

Para perwakilan dibanding industri perjalanan berdemonstrasi pada ‘ Aksi Hari Perjalanan’ di luar Gedung Kongres Inggris di London, Inggris, 23 Juni 2021. Johns Hopkins Coronavirus Resource Center pada Jumat (2/7) membuktikan telah mencatat 129, enam juta kasus COVID & hampir 4 juta maut akibat virus itu di seluruh dunia.

Hingga kini, AS masih tetap di tempat tertinggi dalam jumlah kasus COVID dengan 33, 7 juta kasus, diikuti oleh India dengan 30, 4 juta kasus dan Brasil secara 18, 6 juta peristiwa. Hopkins menyatakan lebih dibanding 3 miliar dosis vaksin telah disuntikkan. (voa/d2)

The post Temukan Disparitas Distribusi, COVAX: Jangan Perlebar Kesenjangan Vaksin Global first appeared on Waspada Online | Pusat Berita dan Informasi Medan Sumut Aceh.