Penjagaan Corona Disebut Bertele-tele, Ini Teori Ahli


Foto: Prof. Mengabulkan Soebandrio, dr, Ph. D, Sp. MK(K) (IDN Times/Panji Galih Aksoro)

JAKARTA, Waspada. co. id – Buatan pemeriksaan untuk menentukan apakah seseorang menjadi positif atau negatif virus corona dianggap cenderung lama. Makin, banyak pihak yang menilai kalau pemeriksaan COVID-19 di Indonesia bertele-tele.

Melalui diskusi online Di Balik Lambatnya Proses Deteksi dan Penelitian COVID-19 di Nusantara, Kepala Lembaga Biologi Molekular Eijkman, Prof. Amin Soebandrio, dr, Ph. D, Sp. MK(K), memberikan tanggapannya.

“Kalau pemeriksaan dalam lab-nya sendiri itu prosedurnya ya begitu, ekstraksi RNA kemudian PCR. Yang kemudian agak berkepanjangan tersebut adalah prosedur-prosedur administrasi sebelum serta sesudahnya, ” ujarnya melalui grup Whatsapp yang diinisiasi oleh Bakrie Center Foundation (BCF), Jumat, 24 April 2020.

Guru besar Amin menambahkan, untuk pemeriksaan contoh sering kali menemukan masalah dalam hal administasi di rumah kecil. Bahkan, saat kasus COVID-19 pada Indonesia masih sedikit, laboratorium Eijkman harus lapor terlebih dahulu ke Dinas Kesehatan.

“Kita harus lapor dulu ke Dinas Kesehatan, melakukan review melalui telepon, setelah itu kalau memang mencurigakan orang Dinkes yang akan datang ke rumah sakit dan mereka yang akan ngambil sampelnya dan mereka yang akan mengirim. Zona itu prosesnya panjang, ” lanjut dia.

Akhirnya, setelah kasusnya makin banyak, Dinkes menodong rumah sakit sendiri yang mengambilnya. Berikutnya pada proses hilir masa hasil sudah siap, peraturan Departemen Kesehatan adalah hasil hanya dapat dilaporkan oleh Badan Penelitian serta Pengembangan Kesehatan atau badan Litbangkes.

“Nanti Litbangkes menyampaikannya ke dinas, kemudian dinas yang akan melaporkan hasilnya ke sendi sakit. Nah ini mungkin dengan dimaksudkan bertele-tele. Seringkali menemukan kelambatan, dan bahkan ada kemungkinan tidak sampai, ” kata dia. 9

Pihak laboratorium Eijkman kemudian mengusulkan untuk memangkas metode tersebut, agar pihak laboratorium mampu langsung menyampaikan hasilnya ke rumah sakit.

“Tentunya didahului dengan laporan umumnya ke Litbangkes, setelah itu kami melaporkan tepat ke rumah sakit yang mengirim. Itu yang kita lakukan saat ini sehingga memotong birokrasi, ” tutur Amin. (wol/pel/data3)