Jangan Jadi Orang Pelit! Perbanyak Sedekah di Bulan Ramadhan

Waspada. co. id – Bulan Ramadhan, bulan semangat untuk bersedekah, bukan bulan pelit untuk bersedekah.

Berlindung dari Sifat Pelit
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan di akhir shalat dengan kalimat-kalimat ini,

اللَّهُمَّ إنِّي أَعوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ وَالبُخْلِ ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ ، وَأعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ

ALLOOHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL JUBNI WAL BUKHLI, WA A’UDZU BIKA MIN PENYERAPAN URODDA ILA ARDZALIL ‘UMUR, WA A’UDZU BIKA MIN FITNATID-DUNYAA, WA A’UDZU BIKA MIN FITNATIL QOBRI (Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan beta berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada umur yang memutar hina–yaitu kepikunan–, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah negeri, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kubur) . ” (HR. Bukhari, no. 6365)

Temperamen Sedekah dari Nabi
Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma , ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang menyesatkan gemar bersedekah. Semangat dia dalam bersedekah lebih bergairah lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling vitalitas dalam melakukan kebaikan laksana angin yang bertiup . ” (HR. Bukhari, no. 3554; Muslim no. 2307)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat suka ketika melihat ada dengan bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena memandu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , juga karena manusia era puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan di mana mereka sudah tersibukkan dengan puasa serta shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh ulama yang seperti itu merupakan Al-Qadhi Abu Ya’la serta ulama Hambali lainnya. ” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 301)

Alasan Penuh Bersedekah di Bulan Ramadhan

1- Bulan Ramadhan adalah waktu yang mulia dan pahala menjelma berlipat ganda, termasuk pula pahala bersedekah.

2- Rajin berderma pada bulan Ramadhan berarti membangun orang yang berpuasa, orang yang melakukan shalat malam dan orang yang berdzikir. Bersedekah ketika itu supaya membantu mereka agar mungkin beramal. Orang yang positif di sini akan mendapatkan pahala seperti pahala itu yang beramal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan orang yang memberi makan buka pertarakan,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Siapa memberi prasmanan orang yang berpuasa, oleh karena itu baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa menekan pahala orang yang bertarak tersebut sedikit pun pula . ” ( HR. Tirmidzi, no. 807; Ibnu Majah no. 1746; Ahmad, 5: 192; sejak Zaid bin Khalid Al-Juhani. At-Tirmidzi mengutarakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

3- Di bulan Ramadhan, Allah juga berderma dengan memberikan rahmat dan ampunan-Nya serta pembebasan dari api neraka, lebih-lebih lagi di dalam malam Lailatul Qadar.

4- Menggabungkan kurun puasa dan sedekah merupakan sebab seseorang dimudahkan meresap surga.

Dari ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pada surga ada kamar yang luarnya bisa dilihat daripada dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya. ” Lantas orang Arab Badui ketika mendengar hal itu langsung berdiri dan berkata, “Untuk siapa keistimewaan-keistimewaan itu, wahai Rasulullah? ” Dia bersabda,

لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

Tersebut disediakan bagi orang dengan berkata yang baik, memberi makan (kepada orang yang butuh), rajin berpuasa, dan melakukan shalat di suangi hari ketika manusia terlelap tidur . ” ( HR. Tirmidzi, no. 1984; Ahmad 1: 155. Al-Hafizh Bubuk Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

5- Menggabungkan antara sedekah dan puasa adalah pokok kemudahan meraih ampunan salah dan selamat dari hukuman neraka. Lebih-lebih jika ke-2 amalan tersebut ditambah secara amalan shalat malam.

Disebutkan bahwa puasa adalah tameng (pelindung) sebab siksa neraka,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ

Puasa adalah pelindung dibanding neraka seperti tameng salah seorang dari kalian ketika ingin berlindung dari pembunuhan . ” ( HR. Ibnu Majah, no. 1639; An-Nasa’i, no. 2232. Al-Hafizh Tepung Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Mengenai sedekah serta shalat malam disebutkan dalam hadits,

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ

Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana api dapat dipadamkan secara air, begitu pula shalat seseorang selepas tengah suangi . ” ( HR. Tirmidzi, no. 2616; Ibnu Majah, no. 3973 . Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

6- Dalam puasa sah ada cacat dan kejelekan, sedekah itulah yang menutupi kekurangan tersebut. Oleh karenanya di akhir Ramadhan, keluarga muslimin disyari’atkan menunaikan zakat fitrah. Tujuannya adalah menahbiskan orang yang berpuasa. Disebutkan dalam hadits, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan karakter yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan dari kata-kata kotor, juga buat memberi makan kepada karakter miskin . ” ( HR. Abu Daud, no. 1609; Ibnu Majah, no. 1827 . Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

7- Disyari’atkan banyak berderma ketika pertarakan seperti saat memberi dahar buka puasa adalah biar orang kaya dapat merasakan orang yang biasa menderita lapar sehingga mereka biar dapat membantu orang yang sedang kelaparan. Oleh karenanya sebagian ulama teladan di masa silam ditanya, “Kenapa kita diperintahkan untuk berpuasa? ” Jawab mereka, “Supaya yang kaya dapat merasakan penderitaan orang yang lapar dan tidak melupakan deritanya. ” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300)

Sumber: Rumaysho. com