Habib Rizieq Minta Pemerintah Bebaskan Seluruh Tahanan Politik


Foto: istimewa

JAKARTA, Waspada. co. id – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab siap di acara peluncuran buku Ajaran Sang Revolusioner karya Syahganda Nainggolan lewat rekaman suara. Acara itu dihadiri pula Presidium Koalisi Ulah Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Gatot Nurmantyo.

Rekaman itu diperdengarkan oleh Ketua FPI DKI Jakarta Muhsin Alatas. Rizieq meminta Syahganda dan dua petinggi KAMI lainnya dibebaskan dari penjara.

“Saran saya kepada pemerintah supaya bebaskan semua tahanan politik, menghasut mereka diskusi, ajak mereka berdebat sehat, suruh mereka semua kritisi segala kebijakan pemerintah yang patuh mereka membahayakan bangsa, ” sebutan Rizieq dalam peluncuran buku yang digelar virtual, Jumat (27/11).

Ia menyarankan pemerintah menjadikan orang-orang kritis sebagai lawan membandingkan atau sparing partner. Rizieq meminta pemerintah tak melulu memenjarakan orang-orang kritis.

Pemerintah diminta untuk mengajak diskusi kelompok dengan berseberangan. Cara itu, kata Rizieq, lebih baik untuk memperbaiki kemampuan pemerintah.

“Satu lawan yang cerdas pandai sehat lebih baik dari sejuta kawan yang bodoh dan bermental penjilat. Karena melalui lawan berpengetahuan berakal sehat, rezim penguasa mampu mendeteksi kelemahan diri, ” perkataan Rizieq.

Cerita Gatot Nurmantyo
Presidium KAMI Gatot Nurmantyo mengaku sempat mengajukan penangguhan penahanan bagi tiga petinggi AWAK yang terjerat kasus ujaran kemuakan.

Namun gagasan Gatot itu ditolak langsung oleh Jumhur Hidayat, Syahganda Nainggolan, dan Anton Perdana. Gatot mengaku kaget arah penolakan itu.

“Sangat mengejutkan. Baik oleh saudara Syahganda, Jumhur, maupun Anton syarat tulisan pengangguhan itu ditolak oleh itu tidak mau surat penangguhan penaganan hanya karena satu syarat, ” ucap Gatot.

Gatot menjelaskan ada tiga syarat yang harus dipenuhi tiga orang tersebut jika ingin ditangguhkan. Pertama, ketiganya harus menyanggupi tidak menghilangkan bahan bukti.

Syarat ke-2 adalah mereka tidak boleh suram. Kemudian syarat terakhir adalah 3 orang tersebut harus berjanji tidak mengulangi perbuatan mereka lagi. “Yang ketiga ini yang ditolak sebab mereka semuanya. Jadi mereka lebih baik di tahanan, keluar tentu melanjutkan perjuangan, ” ujar Gatot.

Sebelumnya, tiga petinggi KAMI diringkus polisi dalam urusan dugaan ujaran kebencian. Jumhur Hidayat, Syahganda Nainggolan, dan Anton Pertama dituduh mengumbar ujaran kebencian dengan memicu gelombang unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigadir Jenderal Awi Setiyono menyampaikan ketiganya telah menjadi simpulan dan ditahan pada Rabu (14/10).

Tiga orang itu dijadikan tersangka sejak 14 Oktober lalu. Mereka dituding sebagai karakter yang menghasut massa agar menyelenggarakan aksi unjuk rasa besar-besaran menegasikan RUU Cipta Kerja. (cnnindonesia/ags/data3)