EDITORIAL: Kebiadaban Zionis Israel yang ‘Dibiarkan’

Perdata. co. id – Kebengisan Israel kembali terulang pada rakyat Palestina, yang dimulai pada awal bulan Syawal tahun ini, tepatnya pada 14 Mei. Konflik antara Israel dan Palestina dasar seolah tidak akan berakhir, dan masih akan terus berlanjut mengingat ada penuh sumber pertikaian keduanya dengan sudah terjadi sejak periode.

Kali itu agresi besar-besaran kembali dilakukan Israel yang tanpa bukan menewaskan ratusan orang. Terekam, jumlah penduduk Jalur Gaza, Palestina, yang tewas akibat serangan Israel sampai saat ini mencapai 228 karakter dan kurang lebih 1400 orang mengalami luka-luka. Namun jumlah korban meninggal di pihak Israel hanya 12 orang.

Kedua militer negeri Timur Tengah itu silih melakukan serangan udara pada Gaza. Bentrokan antara warga Palestina dengan polisi Israel tak terelakkan karena risiko pengusiran warga Palestina pada Sheikh Jarrah. Sementara, wilayah tersebut diklaim milik para-para pemukim Yahudi.

Bila kembali flashback ke belakang, dari sejumlah masukan yang dihimpun maka konflik antara Israel dan Palestina dimulai pada tahun 1948. Kala itu, Israel disebut-sebut akan merebut wilayah kenegaraan Palestina.

Berarakan, tepat di tahun 1967, atau dikenal sebagai Perang Enam Hari, Israel balik merebut Jalur Gaza serta Semenanjung Sinai dari Mesir. Mereka juga merebut Dataran Tinggi Golan dari Suriah. Serta merebut Tepi Barat dan Yerusalem timur daripada Yordania. Alasannya adalah serbuan Arab di perbatasannya.

Tak sampai pada situ, bahkan hingga saat ini peperangan terus berlaku antara kedua negara serta menewaskan ratusan hingga beribu-ribu orang. Peperangan itu pun terkesan tak berimbang, mengingat adanya dugaan jika Israel didukung oleh sejumlah negara adidaya dengan bantuan sokongan dan senjata yang pelik.

Alhasil, rakyat Palestina seakan menjadi bahan negara Yahudi tersebut. Dengan persenjataan yang tak secanggih Israel, mereka tetap melawan untuk mempertahankan apa dengan dianggap memang wilayah yang mereka miliki.

Tanpa ampun tentara Israel mengabisi rakyat Palestina, serta mirisnya mereka yang mati termasuk para wanita serta anak-anak. Berdasarkan data Dewan Koordinasi Kemanusiaan PBB (OCHA UN) sejak 2008-2021, 5. 739 orang Palestina telah meninggal dunia akibat percekcokan tersebut. Jumlah itu mencapai 95% dari total korban jiwa di kedua negara.

Sebanyak 21, 8% korban jiwa di Palestina merupakan anak-anak berusia kurang dari 18 tahun. Rinciannya, sebanyak 1. 011 anak laki-laki dan 244 anak perempuan. Laki-laki kala yang menjadi korban wafat dunia di Palestina menyentuh 3. 783 orang ataupun 65, 7%. Sedangkan, rani yang menjadi korban nyawa di Palestina mencapai 565 orang atau 9, 8%.

Anehnya secara sejumlah bukti di berasaskan, dalam hal ini petunjuk kekejian dari tentara Palestina, kebiadaban yang mereka kerjakan itu seakan ‘dibiarkan’ ataupun bahkan menjadi tontonan. PBB saja selaku organisasi global yang dinilai paling berkompeten untuk mengentikan kekejian tersebut, hingga saat ini tak bisa berbuat banyak.

Untungnya, negara Agama islam seperti Turki masih langsung berada di garda terdahulu untuk membela Palestina dengan memang secara jelas dijajah. Sementara untuk Indonesia sendiri, sebahagian rakyat Indonesia khususnya yang beragama Islam terus memberikan dukungan seperti pengukuhan dana di sejumlah daerah.

Ingat kalau konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina bukan hanya sekadar identik secara masalah agama dan perebutan wilayah. Namun di bagian lain, yang jelas-jelas tampak adalah masalah kemanusiaan. (***)