Dituduh Mencuri Barang Mewah Bos Bandara Changi, TKI Asal Jawa Timur Tak Terbukti Bersalah


Parti Liyani TKW atas Indonesia beriringan pengacara pro bono-nya, Anil Narain Balchandani. Parti bebas setelah terancam dipenjara di Singapura (grid. id)

SINGAPURA, Waspada. co. id – Setelah empat tahun mencari keadilan pada Singapura, akhirnya Parti Liyani, gaya kerja Indonesia (TKI) asal Jawa Timur, terbebas dari tuduhan penyamunan yang dituduhkan oleh majikannya. Meja hijau Tinggi setempat menyatakan Parti Liyani tak terbukti bersalah atas tuduhan pencurian.

Parti Liyani pekerja migran asal Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, akhirnya bisa bernapas lega setelah bandingnya diterima Meja hijau Tinggi Singapura, Jumat (4/9) cepat waktu setempat. Parti Liyani dinyatakan bebas murni setelah mengajukan banding atas vonis hukuman 2, 5 tahun penjara yang diberikan Meja hijau Negeri Singapura terhadap dirinya.

Pengadilan Tinggi Singapura menyatakan wanita itu tak bersalah serta bebas dari tuduhan pencurian dengan dituduhkan oleh majikannya, Liew Mun Leong, yang diketahui merupakan pebisnis ternama di negara tersebut.

Bos Bandara Changi Singapura, Liew Mun Leong (straitstimes. com)

Kuasa hukum Parti Liyani, Anil Narain Balchandani, pengacara pro bono sejak Red Lion Circle, mengatakan tuduhan pencurian yang dituduhkan kepada rani berusia 46 tahun itu tak dapat dibuktikan. Anil menilai kasus yang menjerat Parti Liyani tersedia unsur konspirasi lantaran pada persidangan saksi yang dihadirkan tak berkredibilitas.

“Ada konspirasi, & proses pembuktian tidak sesuai metode, ” kata Anil, usai persidangan.

Sementara itu, Parti Liyani dalam rekaman video yang diterima VOA dari aktivis Humanitarian Organization for Migration Economics (HOME), yayasan nirlaba yang peduli kepada pekerja migran dalam Singapura, mengaku bahagia karena perjuangannya selama empat tahun sejak divonis oleh Pengadilan Negeri Singapura dalam 2016, berakhir manis. Parti Liyani dibebaskan dari semua tuduhan yang menjeratnya.

“Saya berpikir bahwa tidak mungkin akan lulus dari tuduhan yang dituduhkan. Kami berpikir akan mendapat hukuman kepala tahun atau lebih dari 26 bulan. Tapi hari ini saya benar-benar merasa begitu bahagia karena saya tidak dihukum dan bebas dari semua tuduhan, ” sirih Parti Liyani.

Bukan tanpa alasan Parti Liyani mengajukan banding. Menurutnya, dia tidak tenang atas vonis dari Pengadilan Kampung Singapura lantaran Parti Liyani tidak pernah melakukan mencuri barang-barang hak majikannya.

“Tidak sudah putus asa karena harus memperjuangkan apa yang tidak saya lakukan. Saya berpesan untuk teman-teman lainnya. Kalau majikan memperlakukan seperti yang saya alami tolong jangan usai asa dan berjuanglah mendapatkan benar kita. Jangan putus asa serta tidak menyerah, ” ujarnya.

Parti Liyani sendiri telah menjadi TKI di Singapura semenjak tahun 2007. Dalam rentang zaman sembilan tahun bekerja untuk Liew Mun Hong, Parti Liyani tak pernah dihadapkan dengan masalah apa pun.

Petaka men Parti Liyani saat Liew Mun Leong memintanya untuk bekerja dalam rumah Karl Liew (anak lantaran Liew Mun Leong). Namun, Parti Liyani menolak lantaran dirinya sudah terdaftar secara resmi hanya berjalan untuk Liew Mun Leong & bukan kepada anaknya.

Kemudian, pada 28 Oktober 2016, Parti Liyani dipecat lantaran tidak mengindahkan permintaan dari majikannya tersebut. Lalu, dia diminta untuk mengemas barang-barangnya dalam waktu dua tanda dan disuruh pulang ke Indonesia. Pada saat mengumpulkan barang miliknya, Parti Liyani dibantu oleh besar pekerja lain yang juga hidup untuk keluarga Liew.

Parti Liyani pun pulang ke Indonesia, namun tidak bersama barang-barang miliknya yang telah dikemas. Cerai-berai, Parti Liyani meminta agar majikannya mengirimkan barang-barang miliknya itu ke Indonesia. Namun, pada 29 Oktober 2016, keluarga Liew menuding barang-barang milik Parti Liyani yang dikemas dalam tiga kotak itu menyimpan narkotika dan bom, sehingga mereka membukanya.

Setelah menelungkupkan kotak itu, keluarga Liew menemukan sejumlah barang milik mereka. Berarakan, pada 30 Oktober 2016, Parti Liyani dilaporkan ke polisi oleh Liew Mun Leong. Dia dituduh mencuri barang milik keluarga Liew seperti dua unit ponsel, jam tangan bekas, pakaian wanita, selimut, dan barang lainnya dengan total nilai mencapai Rp340 juta. Kotak itu tidak pernah dikirim ke Indonesia dan dijadikan barang bahan dalam kasus yang menjerat Parti Liyani.

Pada dua Desember 2016, Parti Liyani kembali ke Singapura guna mencari pekerjaan baru. Namun, dia langsung ditangkap saat tiba di Bandara Global Changi, Singapura. Kemudian, dia divonis 2, 5 tahun penjara berasaskan kasus tuduhan pencurian itu.

Namun Parti Liyani tidak bergeming, dia kemudian mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Singapura. Semasa proses hukum itu, Parti Liyani tinggal di tempat perlindungan dibanding yayasan HOME lantaran dia dilarang kembali ke Indonesia. (voa/ags/data2)