BNPT Sebut Banyak Pelaku Terorisme Berusia Muda

JAKARTA, Waspada. co. id – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap kira-kira separuh dari pelaku kelakuan teror berusia muda. Hal tersebut diutarakan Direktur Deradikalisasi BNPT Irfan Idris berdasarkan sejumlah penelitian terkait terorisme.

Dia menyuarakan, pelbagai studi tersebut menemui kelompok jaringan teroris kerap merekrut anggota berusia muda salah satunya karena mereka dianggap memiliki militansi yang kuat.

“Memang banyak studi yang menegaskan lebih sejak separuh pelaku [terorisme] warga Indonesia tersebut usia beliau, 18 tahun, usia masuk kategori anak, 20 tahun, 35 tahun, ” tutur Irfan dikutip dari siaran CNN Indonesia TV, Rabu (31/3).

“Kenapa? Kelompok pelampau teroris menyasar usia muda yang memiliki militansi & disalahgunakan militansi dan pemahamannya yang tidak cukup, ” tambah dia.

Irfan mengatakan kelompok teroris umumnya mengemas ajaran mereka dengan mengatasnamakan agama. Real sesungguhnya, tindakan yang dianjurkan itu tidak ada dalam ajaran agama.

Setelah perekrutan kelompok ekstremisme berhasil, Irfan melanjutkan, anggota kelompok teroris usia muda itu akan dijadikan sasaran untuk melancarkan aksi teror maupun penyerangan.

“Pelaku bom bunuh diri tidak ada usia 50 tahun ke atas. Sebab mereka tinggal duduk indah. Mereka merasa kharismatik buat melahirkan narasi kebencian. Mengayau ayat, hadits untuk membenarkan perilaku jahat mereka, ” pungkas Irfan.

Selain berusia muda, Irfan mengungkapkan, jaringan teroris serupa kerap merekrut kelompok perempuan. Dia mengatakan anggota rani juga umumnya lebih berpengaruh dalam menyebarkan ideologi & pengaruhnya.

Irfan menambahkan, ketika seorang hawa menjadi anggota kelompok terorisme maka dia akan mampu merekrut anak dan suaminya serta keluarga untuk turut serta bergabung.

Namun dalam beberapa kejadian, menurut dia, kebiasaan periode yang kerap menempatkan situasi laki-laki di atas rani seringkali menjadikan kelompok ini justru diperalat untuk menyelenggarakan aksi teror. Pernyataan Irfan itu merespons kasus penyerbuan Mabes Polri oleh orang tak dikenal pada Rabu (31/3). Hingga kini kepolisian belum menyampaikan keterangan resmi terkait insiden tersebut.

Tapi berdasarkan rekaman video yang beredar, tulisan menunjukkan seseorang yang diduga perempuan menerobos masuk ke kompleks Mabes Polri. Penyerbu tersebut diduga masih berusia muda. Usai memasuki kaca Korps Bhayangkara, dia terang menodongkan senjata ke petugas sebelum akhirnya terkapar sebab tembakan.

Kendati begitu Irfan masih tangan mengonfirmasi identitas penyerang tersebut. Dia meminta publik menunggu proses pengusutan penegak adat. Adapun saksi di sekitar Mabes Polri mengaku mengindahkan sedikitnya 7 kali suara tembakan. Usai insiden tersebut, polisi berjaga dan menutup akses masuk ke Mabes Polri. (cnnindonesia/ags/data3)